|
|
 |
 |
Friday, September 09, 2005
Posted at 03:50 pm by perdjuangan
Permalink
Friday, September 02, 2005
TERSIMPAN ASNAWIALI (GAM)
|
TERSIMPAN ASNAWIALI (GAM) |
|
Assalamu'alaikum wr wb,
Rini, terima kasih atas koresponden emailnya, berikut ini jawaban dari saya.
1. Saya pribadi tidak pernah mengatakan saya tidak setuju dengan usaha damai untuk mengakhiri konflik di Aceh. Yang saya persoalkan hanyalah caranya yang tidak dimokratis. Bayangkan, GAM yang diwakili oleh dua-tiga orang yang tidak pernah tinggal di Aceh ingin menentukan masa depan Aceh tanpa melibatkan pejuang2 Aceh lain?
Kami ingin damai tapi mestinya dengan keadilan dong. Paling kurang adanya unsur demokrasi. Proses perjanjian damai di Helsinki berat sebelah dan membelakangi unsur demokrasi itu sendiri. CMI kurang selidik dan mengira konflik Aceh dengan RI mudah di selesaikan dengan memerangkapkan pemimpin GAM untuk menyerahkan senjata kemudian semuanya selesai. Konflik yang sudah berjalan hampir dengan se usia kita ini bagaimana bisa di selesaikan dengan hanya duduk 5 kali saja di Helsinki?
Sekarang tidak ada alternatif lain selain memberikan peluang " damai" ini kepada rakyat Aceh untuk mengubah nasibnya. Kalau memang sebagaimana prediksi saya usaha damai ini tidak berhasil, saya kira solusi lain harus dihadirkan. Alternatif tersebut melibatkan seluruh elemen pranata sosial Aceh secara demokrasi bukan secara partial dengan demikian akan di ketahui suara masyarakat Aceh. Saya sangat yakin bahwa aspirasi tersebut ingin menentukan nasib sendiri. Singkatnya, memilih bulan bintang atau merah putih.
2. Sebenarnya tidak ada kelompok2an itu. Saya meilhat "damai" itu dengan penuh kehati-hatian, bukan dengan euphoria dan optimisme yang berlebihan seperti halnya yang dianut oleh sebagian besar kelompok lainnya. Saya selalu membandingkan isi MoU yang diteken di Helsinki dengan realita di lapangan.
Kekuatan kami ada di tangan rakyat. Ya, kami juga bagian dari rakyat itu meskipun rakyat Aceh di pengasingan. Yang demikian itu bukan kemauan kami untuk duduk di negeri dekat kutub utara ini. Tetapi orang Aceh yang bersamaan pendapat dengan kami itu banyak di seluruh dunia ini, bukan hanya di Aceh. Dengan globalisasi sekarang ini dunia terasa semakin kecil, komunikasi tidak lagi menjadi masalah besar. Rini duduk di Belgia tapi berita yang Rini buat dapat serta merta di muat di Indonesia.
3. Seperti dimaklumi, banyak rakyat Aceh yang sudah berjuang dan berkorban untuk Aceh Merdeka kecewa dengan tindakan beberapa pemimpin GAM di Swedia ini yang memutuskan "Self Government" bagi Aceh. Kekecewaan mereka2 itu perlu diperhatikan. Kami tetap menuntut hak rakyat Aceh untuk menentukan nasibnya sendiri. Bagaimana caranya, tergantung pada situasi dan kondisi percaturan politik Internasional.
4. Dengan sangat menyesal sekali saya belum bisa menjawab pertanyaan ini. Insya Allah pada lain waktu dan kondisi yang memungkinkan akan saya jawab hal tersebut. Kiranya Rini dapat memakluminya.
Saya di lahirkan dari keluarga yang sederhana. Orang tua saya berasal dari Pidie namun sejak kecil saya telah pindah ke Banda Aceh. Ketika SMA saya kembali ke Pidie yang bersamaan mengikuti pendidikan pesantren asrama selama 3 tahun. Kemudian kembali lagi ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Syiah Kuala. Semenjak itu saya sering menjadi kurir untuk membawa wartawan terutama wartawan asing yang ingin meliput kasus Aceh untuk wilayah Pidie. Akibat seringnya saya menjadi guide kepada wartawan asing sehingga pada suatu hari di tahun 1998 saya di curigai oleh pihak TNI sebagai penghubung wartawan yang ketika itu TNI berusaha menutup-nutupi korban pelanggaran HAM pasca DOM.
Konsekwensinya pendidikan saya terganggu dan non aktif, yang pada akhirnya setelah keadaan semakin kritis mengingat seringnya aparat keamanan menanyakan keberadaan saya kepada anggota keluarga dengan sangat terpaksa ketika itu harus segera meninggalkan Aceh secepatnya. Saat itu terakhir sekali saya melihat wajah keluarga saya sebelum sebagian dari mereka menjadi korban tsunami.
Pulau Pinang adalah tanah pertama yang saya hijrahi di luar Aceh. Alhamdulillah ada warga Melayu yang bersimpati membantu kehidupan saat itu. Setelah 2 tahun di Pulau Pinang kemudian hijrah ke Kuala Lumpur untuk mendaftarkan suaka pada kantor UNHCR. Setelah di terima sebagai status Refugee akhirnya di berangkatkan ke Norwegia.
Ketika di Norwegia saat pasca musibah tsunami, saya memberanikan diri pulang ke Aceh pada 1-30 April lalu secara rahasia atas bantuan lobby IOM dan Imigrasi Norwegia di Oslo dengan memberikan fasilitas paspor Norwegia non Asylum/Refugee dengan status Permanent Residence Norwegia sementara sehingga dapat masuk ke Indonesia melalui Bandara Polonia Medan dengan menggunakan visa turis VoA--Visa on Arrival. (Kebetulan Norwegia termasuk negara di eropa yang termasuk dalam daftar negara penerima VoA. Membayar Visa saat kedatangan di Bandara dengan visa turis selama sebulan 25 US Dolar).
Setelah 2 tahun di Norwegia kemudian kembali hijrah ke Swedia ini.
Nama orang tua H. Mohd Ali dan Hj. Nurtini. Istri Zahara Ibrahim.
Tabik,
A A |
Posted at 11:52 am by perdjuangan
Permalink
Thursday, September 01, 2005
Tersimpan Berita Razali Abdullah/ Li Paya
|
Omar Putéh Stavanger - NORWEGIA. |
|
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
www.ahmad-sudirman.com
Stavanger, 1 September 2005
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
M.DAUD @ DAUD PANEUK ORANG YANG PERTAMA ENGKAR SUMPAH-JANJI
Omar Putéh
Stavanger - NORWEGIA.
M.DAUD @ DAUD PANEUK ORANG YANG PERTAMA ENGKAR SUMPAH-JANJI
M. Daud Husin @ Daud Paneuk adalah orang yang pertama engkar sumpah-janji kehadapan Allah SWT, atas sumpah-ikrar janji ta'at setianya kepada Pemimpin/Wali Negara, kepada bangsa Achèh dan perjuangannya pada tahun 1997, walaupun telah berkhidmat dengan penuh dedikasi selama 21 tahun.
Yusuf Daud Paneuk aneuk Daud Paneuk @ Krungkong Pasië 'Lhok dan bisannya Syahbuddin Abdurrauf aneuk Haji Gafur Paneuk Antèna, membuat percobaan coup d' taat keatas Kepimpinan Wali Negara, Negara Achèh Sumatra: Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Hasan lewat Daud Husin @ Daud Paneuk, lewat Kuala Lumpur, Malaysia, tetapi telah digagalkan oleh Pemerintah ad intrim Negara Achèh di Pengasingan di Malaysia cq Tengku Yusra Habib Abdul Gani Cs.
Tidak lama setelah Kuala Lumpur diisukan hangat dengan kehadiran Daud Paneuk, yang sedang mempersiapkan diri untuk memimpin gerakan Coup d' taat keatas kepimpinan Wali Negara, Negara Achèh Sumatra, Tengku Tjhik di Tiro Hasan Muhammad, lewat Kuala Lumpur, Malaysia, telah mengundang Tengku Yusra Habib Abdul Gani, berrtindak untuk memanggil rakannya saudara Razali Abdullah, agar segera datang menemuinya di kantornya.
Disana sedang menunggu juga saudara Tengku Razali Hamid, yang dikalangan ASNLF/GAM dikenal sebagai Tengku Razali Kubang Abèe, sekaligus sebagai rakan kental (solid friends) Tengku Yusra Abdul Gani dan juga Razali Abdullah itu sendiri. Mereka bertiga ini tersebut sebagai Trio, Tiga Sekawan seperti tiga dalam satu, 3 in 1!
Bertanya dan berkatalah Tengku Yusra Abdul Gani kepada saudara Razali Abdullah, berdepan-depan dengan Tengku Razali Hamid: Apa yang sudah Bang Li ketahui? Sementara saudara Razali Abdullah sedang terpinga-pinga walaupun sesaat, terpikirkan pertanyaan yang menyambarnya itu, namun terus juga menjawab: Tidak! Tidak tahu apa-apa!
Memang saudara Razali Abdullah tidak mengetahui apa apa perkara itu, perkara yang kemudian diberitahukan juga oleh Tengku Yusra Abdul Gani.
Daud Paneuk sudah berada disini, di K.L ini! tukasnya singkat, tetapi lucunya Tengku Yusra Abdul Gani, tidak mau pula memberitahukan segera, sedang dimana dia itu.
Tengku Yusra Abdul Gani, pada mulanya memang merasa berat untuk segera memberi tahukan dimana Daud Paneuk itu, sedang memondok, tetapi setelah didesak oleh saudara Razali Abdullah, terpaksa mengatakan juga.
Baiklah, OK-lah, balas saudara Razali Abdullah singkat pula, sebaik diberitahukan dimana Daud Paneuk sebenarnya memondok. Itu sudah cukup!
Setelah memberitahukan dimana Daud Paneuk memondok, Tengku Yusra Abdul Gani pun memulai menceritakan, bagaimana kempen jahat dan kotor dari misi yang dibawa oleh Daud Paneuk dengan tentengan "buku hijau-nya, buku berlapik luar, berwarna hijau itu", yang kemudian dikenal sebagai kitab suci MB GAM/MP GAM.
Ketika itu Tengku Yusra Habib Abdul Gani, hanya mengatakan perkara memburukkan itu ada setebal ini, sambil menunjukkan ketebalan itu dengan pragaan jari jemarinya.
Ketika rapat terakhir untuk memperbaiki dan menyelamatkan keadaan, menyelamatkan Daud Paneuk Cs. agar tidak terjerumus kedalam lobang besar galian anaknya itu: Yusuf Daud aneuk Daud Paneuk @ Krungkông Pasiëe 'Lhok dan anak bisannya sendiri itu: Syahbuddin Abdurrauf aneuk Hj Gafur Paneuk Antèna, maka kali ini dijemputlah saudara Razali Abdullah oleh Tengku Iqbal Idris dan Tengku Syed Qassim Muthawali al Idrus al Yamani agar datang berhadhir kekediaman Tengku Ramli, di Klang.
Perlu dimaklumkan bahwa, sebelumnya tidak seorangpun pernah mengajak saudara Razali Abdullah menghadiri musyawarat tergempar seperti itu, yang diketahui lebih banyak dikerumuni oleh keluarga WN, keluarga di Tiro.
Keesokan harinya sekembali dari menghadiri rapat terakhir dan tergempar itu, saudara Razali Abdullah terus langsung datang lagi, tampa dipanggil lebih dahulu, seperti sebelumnya untuk menemui rakan Trio-nya kembali: Tengku Yusra Habib Abdul Gani dan Tengku Razali Hamid. Memang disana, dikantornya Tengku Yusra Habib Abdul Gani cq dikantor Pemerintah ad intrim Negara Achèh Sumatra, telah menunggu juga Tengku Razali Hamid.
Hari itu, dikantor itu, dikantor Pemerintah ad intrim Negara Achèh Sumatra, langsung saudara Razali Abdullah meneriaki: Tengku Yusra! Ini, apa yang sedang dilakukan Daud Paneuk sekarang ini, di Kuala Lumpur ini, adalah Coup d' taat! Trio-nya saudara Razali Abdullah: Tengku Yusra Habib Abdul Gani dan Tengku Razali Hamid menjadi kaget. Tetapi itulah sebenarnya!
Memang sebelumnya Tengku Ishak Daud (As-sjahid) telah memberitahukan Tengku Yusra Habib Abdul Gani dan saudara Razali Abdullah, bahwa beliau sudah bercakap panjang, terkuras amblas ribuan ringgit, berhari-hari, bermalam-malam dengan pihak Daud Paneuk Cs, tentang propaganda jahat dan kotor itu.
Tengku Ishak Daud (As-syahid), Tengku Yusra Abdul Gani dan saudara Razali Abdullah adalah juga merupakan satu Trio lain: Trio-nya dari Komite Pelindung Pelarian Achèh di Malaysia, yang dilantik langsung oleh Wali Negara, Negara Achèh Sumatra, Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Hasan, untuk mendampingi dan membantu Advokat Negara Achèh Sumatra/ASNLF: Tengku Yusuf Rahmat, sebuah komite yang terlibat aktip untuk menyelesaikan masalah ribuan
rakan-rakan pelarian perang bangsa Achèh yang ketika itu sedang ditahan di lima Detention Camp di Semenanjung Malaya, agar dapat kiranya diperlakuan selayaknya dengan kestatusan mereka sebagai refugee/pelarian perang atau dengan substansi lainnya, yang pernah di'iktiraf masyarakat dunia.
Suatu hari, sekembalinya Trio-nya Komite Pelindung Pelarian Achèh di Malaysia dari perjalanan menjumpai Tengku Yusuf Rahmat di kantor beliau di Melaka, Kota Bersejarah, disuatu tempat persinggahan saudara Ishak Daud (As-syahid) mendekati saudara Razali Abdullah, sementara rakan Trionya, Tengku Yusra Abdul Gani, kebetulan sedang tegak agak berjarak sedikit.
Disitu berkatalah Tengku Ishak Daud (As-syahid), Tengku Li (beliau selalu memanggil Tengku kepada saudara Razali Abdullah)....blaa, blaaa dan blaaaaa blaaaaa!
Saudara Razali Abdullah menjawab spontan dan tegas: Tengku Ishak, saya tidak suka siapapun memburuk-buruk pemimpin! Cukup! Ayoh, mari kita balik segera!
Dan diseketika lain saudara Razali Abdullah pernah mengatakan dan menerangkan lanjut pula kepada Tengku Ishak Daud (As-syahid) pula: Apa yang bisa dibuat dr Husaini Hasan itu! Coba Tengku Ishak katakan kepada saya. Coba!
Kepada pihak berkuasa Norwaypun saudara Razali Abdullah, pernah menceritakan ketika mereka menayakan prihal satu kelompok yang dikatakan wujud di Swedia bahwa, dr Husaini Hasan (Ketuanya) dan kumpulannya itu: "MB GAM/MP GAM seperti Bread Crumbs Gang, seperti Geng Remah Roti, lagèe Gèng 'Dhoi Ruti!"
Sama sebagaimana Permas, seperti Bread Crumbs, seperti Remah Roti, lagèe 'Dhoi Ruti!
Telah kita saksikan hingga hari ini, dr Husaini Hasan, seperti Bread Crumbs, seperti Remah Roti, lagèe 'Dhoi Ruti, yang berkesanggupan dilakukannya adalah menyuruh "cangkonek-cangkonek MB GAM/MP GAM menyerang Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM dalam internet, dengan kata-kata yang jahat dan kotor, dan senantiasa berhubung kontak dengan Penjajah Indonesia Jawa, sekalipun kabarnya kini dia sedang berkoalisi, diantaranya dengan si Plintat-Plitut, si Petualang jalang nomor satu": Dr Lukman Thaib, (si "Tengku Tjhik di Paloh Bodoh")!
Sebenarnya hari itu, Tengku Ishak Daud (As-syahid) coba mendapatkan pandangan saudara Razali Abdullah tentang perkembangan kampanye jahat dan kotor-nya Daud Paneuk Cs yang sedang melanda Kuala Lumpur/Malaysia, tetapi saudara Razali Abdullah, hanya mau terus meresponnya sedemikian rupa singkatnya, karena beliau itu, telah tahu siapa dr Husaini Hasan itu, apalagi dia itu seangkatan dengannya. Hanya bedanya, dia itu pernah dilantik sebagai Menteri oleh Tengku Muhammad Hasan di Tiro, yang kemudian dipecat pada tahun 1999, 14 tahun setelah disingkirkan dari kabinet, pada tahun 1985.
Saudara Razali Abdullah tahu akan maksud baik dari pendekatan yang dilakukan Tengku Ishak Daud (As-syahid), tetapi beliau hanya lebih suka melayan kerensponsipnya atas Tengku Ishak Daud (As-syahid) itu sendiri, yang sedang berdepan dengan masalah Refugee Achèh/Pelarian Perang Achèh di Malaysia, dari pada lari kemasalah yang jahat dan kotor yang datang dari Daud Paneuk Cs ataudr Husaini Hasan Cs.
Karena saudara Razali Abdullah sangat menyadari bahwa, Tengku Ishak Daud (As-syahid) adalah anak Achèh terbilang, yang paling sangat prihatin dan bernaluriah sangat sensitip terhadap masalah nasib ribuan rakan-rakan bangsa Achèh yang sedang ditahan dilima Detention Camp di Semenanjung Malaya, ketimbang Daud Paneuk Cs, ketimbang dr Husaini Hasan Cs.
Beliau (As-syahid) senatiasa menangis seperti anak kecil,apabila sedang tegak memperkatakan nasib ribuan anak bangsa Achèh yang sedang ditahan itu:
Badan mereka ditumbuhi kurap-gatal, sangat kurus, dijatahi dengan makanan yang demikian rupa, dihina, dicaci-maki setiap hari oleh "mereka-mereka", sama tangisnya sebagaimana ketika beliau mengenangkan kembali ketika kepulangannya kemedan perang ditahun 1989, dengan memperkatakan bagaimana bantuan yang diterimanya, datang dari anak bangsa Achèh yang rumah mereka pun tertegak singet, berdiri hanya dengan tiga tiang, sedang yang lain
tergantung reput dimakan garam tanah, bukan dari yang rumahnya mentreng, kantongnya loaded.
Dan sebenarnya lagi, Tengku Ishak Daud (As-sjahid) yang syahid tahun lalu, berasal dari Bungkaih, Krung Manèe, Wilayah Pasèe adalah kaum kerabat saudara Razali Abdullah sendiri dan dari keluarganya juga, telah lama berpindah ke Kuala Idi, dalam Wilayah Peureulak, Darul Aqla.
Selain itu saudara Razali Abdullah, juga berharap agar dikemudian hari, agar Tengku Ishak Daud (As-syahid) tidak akan dapat digoyah dan diperdayakan oleh siapapun dari anasir-anasir jahat dan kotor: MB GAM/MP GAM, Bread Crumbs Gang, Geng Remah Roti, awak 'Dhoi Ruti!
Beberapa hari sebelum syahidnya Tengku Ishak Daud, kembali beliau mengingatkan saya: "Tengku Li, saya mau kembali berperang menentang tentara penjajah Indonesia Jawa. Tetapi siapa yang akan memerintah saya untuk melakukannya..................... Coba tanyakan kepada Mentroë!
Tengku Li lihatlah, itu, Tengku Muhammad dan bangsa Achèh lainnya sedang dirante tangan dan kaki, kemudian ditarik dan dihalau ke Pulau Jawa macam kambing oleh Penjajah Jawa biadab.
Ucapannya itu menatang kembali ingatan saya, ketika Tengku Ishak Daud (As-syahid) pernah meraung-raung juga, macam anak kecil menangis, diseketika keluarnya isu bahwa, rakan-rakan bangsa Achèh, yang sedang ditumbuhi kurab-gatal, yang sangat kurus, yang pernah dijatahi makanan sedemikian rupa, dihina dicaci-maki setiap hari oleh "mereka-mereka", akan dikirim pulang secara paksa untuk dimuat kedalam kapal ALRI, yang sedang menunggu di lepas-pantai Lumut, Perak, Darul Redzuan, sambil mengatakan:
"Macam mana kita bisa tega melihat bangsa Achèh, akan ditarik macam kambing dan dihalau untuk dimuat kedalam kapal ALRI, yang akan dipaksa kirim pulang oleh pemerintah Malaysia-Indonesia!
(Bersambung: Plus I + M Daud Husin @ Daud Paneuk, Orang Yang Pertama Engkar Sumpah!)
Wassalam
Omar Putéh
om_puteh@yahoo.com
Norway
|
Posted at 09:10 pm by perdjuangan
Permalink
Saturday, August 27, 2005
Sesungguhnya Allah Indah dan suka akan keindahan
|
http://www.bicarasufi.com/bscweb/
|
Sesungguhnya Allah Indah dan suka akan keindahan |
|
Kemaskini terakhir :23 JamadilAkhir 1426 bersamaan 30 Julai 2005 |
|
|
|
Direktori Thoriqat Nusantara |
|
Naqsabandiah Al-Kholidiah |
Madrasah Babussalam , Sumatra, Indonesia
Markas Kg. Naqsabandiah , Kajang
Madrasah Beranang
Madrasah Ulu Kelang
Madrasah Sri Kundang , Kuang
Madrasah Jeram
Madrasah Kuala Kubu Baru, Selangor
Madrasah Kg. Sg. Kayu Ara , Damansara
Madrasah Sg. Cincin , Gombak
Markas Taman Greenwood , Gombak
Madrasah Kg. Jerlun , K. Kangsar
Madrasah Kg Cendawan , Ipoh
Madrasah Simpang Pulai, Ipoh
Madrasah Air Tawar , Perak
Madrasah Changkat Cermin, Batu Gajah
Madrasah Seberang Perak
Pondok Terusan
Madrasah Lenggeng. N 9
Madrasah Sungai Tinggi
Madrasah Pasir Mas , Kelantan
Madrasah Bt. 19 , Bachok Kelantan
Madrasah Kuala Muda, Kedah
Madrasah Pulau Lamgkawi, Kedah
Madrasah Guar Cempedak, Kedah
Madrasah Kampung Tanah Merah, Jitra
Madrasah Kg. Gurun
Madrasah Pondok Upeh, Balik Pulau
Madrasah Dong Raub
Madrasah Mentakab
Kuala Kerau, Temerloh
Madrasah Kg. Dalam , Trangganu
Madrasah Dungun , Trangganu
Madrasah Johor Baharu , Johor |
|
Naqsabandiah Kabbani |
Markas Jalan Ara
Markas Ipoh, Perak
Markas Kota Bharu, Kelantan |
|
Qadiriah wal Naqsabandiah |
Pesantren Suryalaya , Jawa Barat
Inabah Padang Tembak , Kedah.
Inabah Sungai Ikan , Trengganu
Inabah Samporna , Sabah
Inabah Kuching , Serawak
Inabah Singapura |
|
Qadiriah |
| . |
|
Ahmadiah Idrisiah |
Masjid Qasim, Singapura
Masjid Haji Mohd Salleh, Singapura
Masjid Kebun Limau, Singapura
Masjid Firdaus, Singapura
Markas Kg. Tengku, PJ
Markas Pondok Rasah, Seremban
Markas Ampangan, Seremban
Masjid Lama Telok Kemang
Surau Rumah Rakyat Pengkalan Durian
Kampung Bukit Tembok, Port Dickson
Masjid Solok Limau, Masjid Tanah
Madrasah Nurul Iman, Sik
Pondok Kampong Pek, Macang
Markas Pasir Mas
Markas Pondok Tunjung
Markas Pengkalan Kubur
Markas Bukit Abal
Markas Lundang Paku, Ketereh |
|
Ahmadiah Dandrawiah |
Markas Padang Salim
Markas Seremban |
|
Ahmadiah Adamiah |
| Masjid Kg.Laut, Tumpat |
|
Ahmadiah Jaafariyyah |
| Madrasah at-Taufiqiah Al Husainiah , Cengkau |
|
Ismailiah |
| Markas Jalan Bayam, Kota Bharu |
| Nota:Madrasah yang tiada link adalah madrasah yang BSC tidak mempunyai maklumat lanjut. Sebarang senarai baru, pembetulan atau tambahan, sila hubungi ahli-ahli Urusetia melalui pesanan peribadi di BicaraSufi. |
|
|
BicaraSufi
. |
|
|
Posted at 12:44 am by perdjuangan
Permalink
Tersimpan Dokument Peuntèng
Posted at 12:40 am by perdjuangan
Permalink
Tuesday, August 23, 2005
|
GAM Mulai Retak
JAKARTA– Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai retak. Tak semua elemen di dalamnya satu kata terhadap kesepakatan damai yang ditandatangani di Helsinki 15 Agustus lalu. Sebagian kemudian membentuk Komite Penyelamat Revolusi dan Konstitusi Negara Aceh.
Saat ditelepon wartawan Jawa Pos melalui sambungan internasional tadi malam, Razali, koordinator wilayah Aceh Timur, membenarkan hal itu. Lelaki 48 tahun yang lama mengangkat senjata di kawasan Aceh Timur tersebut kini menyingkir ke Malaysia untuk menjalani pengobatan.
”Dari amanat wali negara kita, memang ini (perjanjian damai, Red) menyalahi. Mereka tidak mau kompromi dengan masyarakat Aceh. Jadi, itu hanya keputusan beberapa orang GAM,” katanya.
Bukankah Tengku Hasan Muhammad Di Tiro yang menjabat ketua Angkatan Aceh, Sumatera Merdeka, dan Wali Negara sudah bersepakat untuk damai? ”Menurut kami, Tengku Hasan Di Tiro tidak terlibat langsung. Yang tanda tangan juga bukan dia,” jawabnya.
Memang, yang menandatangani MoU adalah PM GAM Malik Mahmud. ”Wali negara sekarang sedang sakit-sakit sehingga berita yang disampaikan berlainan dengan yang dikerjakan,” lanjutnya.
Razali juga mengatakan, Komite Penyelamat Revolusi berbeda dengan Majelis Pemerintahan (MP) GAM di bawah pimpinan mantan Menteri Pendidikan GAM Dokter Husaini Hassan. MP sering disebut sebagai sempalan GAM yang berpusat di Malaysia.
Jadi, merasa ditinggal? ”Bukan merasa ditinggal saja. Tapi, sudah menyalahi amanat dan sejarah kita. Juga menyalahi konstitusi negara kita (Aceh),” lanjutnya.
Mantan anak buah Ishak Daud itu tetap menuntut kemerdekaan. ’’Itu saja, tak ada yang lain. Di Malaysia, kini sudah ada sekitar 600 orang yang tergabung dalam komite ini,’’ tambahnya.
Wartawan Jawa Pos juga mengontak Yusra Habib Abdul Gani yang saat ini tinggal di Denmark. Dia adalah koordinator umum Komite Penyelamat Revolusi. ”Jangan kutip sebagai Komite Penyelamat Revolusi dulu. Itu terlalu dini. Tapi, sebagai pribadi, saya mau berkomentar,” katanya memulai pembicaraan.
Yusra pernah menjadi staf pengajar Universitas Muhammadiyah Jakarta 1983–1990. Setelah itu, dia pindah ke Malaysia. Di sana, Yusra bergabung dengan GAM dan dipercaya Hasan Di Tiro sebagai Pemred Majalah Suara Aceh Merdeka. Lalu, dia menjadi ketua Komite Pelarian Politik Aceh di Malaysia. ”Ini bukan sekadar kecewa. Ini soal prinsip,” ujar Yusra yang sejak 15 Agustus lalu mengundurkan diri sebagai ketua redaksi http://www.asnlf.com/ (situs resmi GAM).
”Saya bukan tidak cinta damai. Semua cinta damai. Kita tidak ingin lagi ada pertumpahan darah. Sebelum pertemuan Helsinki itu, kita secara organisasi sudah menyampaikan pokok pikiran kepada pemimpin supaya kekerasan di Aceh dihentikan,” beber Yusra yang Desember nanti menerbitkan bukunya, Aceh Bukan Indonesia.
Sejauh ini, dua petinggi GAM, Hasan Di Tiro (sipil) dan Panglima GAM Muzakir Manaf (militer), memang belum menyampaikan komentarnya langsung di depan publik. ”Yang jelas, banyak orang Aceh tak paham apa itu self government. Setelah tahu, mereka kecewa.”
Yusra lalu membeberkan beberapa studinya tentang self government. Mulai dari Tibet, Hongkong, Quebec (Kanada), Bouganville (Papua New Guini), Palestina, Green Land, Iceland (Denmark), Skotlandia, Tamil (Srilanka), dan Mindanao (Filpina). Masing-masing mempunyai kekhasan.
”Namun, secara prinsip sama dengan Aceh dan masalah semua self government itu tidak menciptakan kemerdekaan. Inilah masalahnya.” Yang seprinsip dengannya, selain GAM di Malaysia, juga GAM di Autralia, Belanda, dan USA. ”Beberapa GAM di lapangan juga setuju dengan saya,” terangnya tanpa menyebut siapa saja yang dimaksudkannya itu.(*) |
Posted at 01:04 am by perdjuangan
Permalink
Monday, August 22, 2005
PERSATUAN MASYARAKAT ACEH SKANDINAVIA (PERMAS)
|
PERSATUAN MASYARAKAT ACEH SKANDINAVIA (PERMAS) |
Activity within 7 days:
3 New Members
Description
PERSATUAN MASYARAKAT ACEH SKANDINAVIA (PERMAS)
PERMAS dibentuk sebagai wadah perhimpunan untuk semua golongan/organisasi/kelompok yang berjuang untuk mengusir penjajahan RI dari bumi Aceh yang tercinta. Bearangkat dari pada itu, sejak setahun yang lalu telah dilakukan diskusi, komunikasi dan koordinasi secara intensif antara masyarakat Aceh di tiga negara Skandinavia (Swedia, Norwegia dan Denmark). Masyarakat Aceh di Skandinavia telah menuangkan idé dan fikiran barunya dengan melihat jauh kedepan memikirkan bagaimana dapat membantu perjuangan kemerdekaan bangsa Aceh tanpa merugikan golongan tertentu.
Sesuai dengan tujuannya untuk menyatupadukan masyarakat Aceh diluar negeri, khususnya di negara-negara Skandinavia, maka diharapkan kita dapat tolong menolong, bahu membahu, dengan melepaskan kepentingan pribadi dalam memikirkan berbagai masalah Aceh sesuai dengan kemampuan kita bersama.
ASSOCIATION OF ACHEHNESE COMMUNITY IN SCANDINAVIA (AACS)
PERMAS is founded as organization to all groups/organization/social class that struggle colonization of Indonesia in our beloved country. Followed from that, since a year ago there has been intensively discussion, communication and coordination between Achehnese in three Scandinavian countries (Sweden, Norway and Danmark). Achehnese Scandinavian has given new ideas and thoughts and to think far ahead to help the struggle of Achehnese independence without damaging any other groups.
Based on its goal to unite Achehnese people abroad, especially in the Scandinavian countries, so that by existing it we can help each other, hand in hand, releasing our own interests to think and solve the problems together based on our own ability. |
Posted at 12:47 pm by perdjuangan
Permalink
Saturday, August 20, 2005
Posted at 06:15 pm by perdjuangan
Permalink
Friday, August 12, 2005
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
|
|
|
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 38 TAHUN 2005
TENTANG
PENGHAPUSAN KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN
KEADAAN DARURAT SIPIL DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
|
|
| Menimbang : |
a. |
bahwa sejak diberlakukannya Keadaan Bahaya dengan tingkatan Keadaan Darurat Sipil di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pernyataan Perubahan Status Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer menjadi Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagaimana telah diperpanjang dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2004, kondisi keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan serta akitivitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah berlangsung semakin baik dan menunjukkan hasil yang signifikan; |
| |
b. |
bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, serta setelah mempertimbangkan dengan seksama saran dan pendapat yang disampaikan oleh pimpinan DPR-RI, pimpinan fraksi-fraksi, dan Pimpinan Komisi I, II dan III DPR-RI dalam Rapat Konsultasi antara Pemerintah dengan DPR-RI tanggal 16 Mei 2005, dipandang perlu melakukan penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; |
| |
c. |
bahwa penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam perlu dilakukan dengan Peraturan Presiden; |
| |
|
|
| Mengingat : |
1. |
Pasal 4 ayat (1), Pasal 10, Pasal 12, dan Pasal 28A-J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; |
| |
2. |
Undang-Undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 52 Prp Tahun 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2113); |
| |
|
|
|
|
| |
|
|
|
Menetapkan :
|
|
PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENGHAPUSAN KEADAAN BAHAYA DENGAN TINGKATAN KEADAAN DARURAT SIPIL DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM. |
|
|
|
Pasal 1
|
|
(1) Terhitung mulai tanggal berlakunya Peraturan Presiden ini, Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil yang diberlakukan di seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasarkan keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pernyataan Perubahan Status Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer menjadi Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagaimana telah diperpanjang dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2004, dinyatakan dihapus
|
|
(2) Dengan penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyelenggaraan pemerintahan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk selanjutnya dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada keadaan tertib sipil.
|
|
|
|
Pasal 2
|
|
Dengan ditetapkannya Peraturan Presiden ini, seluruh kebijakan mengenai pelaksanaan Operasi Terpadu yang meliputi Operasi Pemulihan Ekonomi, Operasi Penegakan hukum, Operasi Pemantapan Pemerintahan, Operasi Kemanusiaan, dan Operasi Pemulihan Keamanan yang dilakukan selama Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tetap berlangsung dan ditingkatkan pelaksanaannya dalam bentuk program.
|
|
Pasal 3 |
|
Dengan ditetapkannya Peraturan Presiden ini, maka Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pernyataan Perubahan Status Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer menjadi Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagaimana telah diperpanjang dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2004, dinyatakan tidak berlaku.
|
|
|
Pasal 4
|
|
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pukul 00.00 WIB tanggal 19 Mei 2005. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. |
|
| |
| |
|
|
Ditetapkan di Jakarta |
| pada tanggal 18 Mei 2005 |
| PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, |
|
ttd. |
| Dr. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO |
|
|
Diundangkan di Jakarta |
| pada tanggal 18 Mei 2005 |
| MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA |
|
REPUBLIK INDONESIA, |
|
ttd |
|
Dr. HAMID AWALUDDIN, SH |
| |
|
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 42. |
| |
|
Salinan sesuai dengan aslinya |
| Deputi Sekretaris Kabinet |
| Bidang Hukum dan |
| Perundang-undangan, |
| |
|
Lambock V. Nahattands. |
|
| |
|
|
|
|
Embassy of Indonesia in Canberra, Australia |
|
Posted at 12:48 am by perdjuangan
Permalink
THERE IS NO SUBSTITUTE FOR A GENUINE FREEDOM AND INDEPENDENCE
|
THERE IS NO SUBSTITUTE FOR A GENUINE FREEDOM AND INDEPENDENCE |
Association of Achehnese Community in Scandinavia (PERMAS)
P.O.Box: 1548, Kjelvene 4093
Stavanger, Norway
THERE IS NO SUBSTITUTE FOR A GENUINE FREEDOM AND INDEPENDENCE
After a mere five meetings, The Free Acheh Movement (GAM) and the Indonesian government is scheduled to sign a historic agreement on August 15 in Helsinki, the capital city of Finland. Though the full details of the agreement have yet to be disclosed, the substantial points of the draft have been widely analysed and published in the media. The five rounds of talks seemed to have gone smoothly and in a very benign atmosphere. This was largely due to GAM’s radical changing of position, by excluding the independence option from the agenda
This bold decision taken by the so called GAM leadership in Sweden to drop the long sworn demand for an independent Acheh and to formally recognise Acheh being an integral part of Indonesia, has taken the international community as well as Jakarta aback. Realizing that GAM had fallen into its own trap, the whole world had come in unison to support the process and to tighten the grip on the already weakening position of GAM. Sweden-based Olof Palme Centre, in collaboration with the Crisis Management Initiatives (CMI), has invited to Stockholm some, embedded representatives of Achehnese civil society for consultation with GAM leaders over here. As a matter of fact, these so called Achehnese representatives are no other than a handful selectively handpicked GAM supporters from Malaysia.
We, Achehnese Community in Scandinavia (PERMAS), wholeheartedly support the peace efforts and we wish a success. But we will never condone, under any circumstances, these undemocratic conducts to deliberately ignore the mainstream Achehnese civil society groups to fully participate in the process. The Helsinki agreement that will be signed on the fateful August 15 is seen as a matter of life and death of the people of Acheh, and they should have been consulted before making such a disastrous decision. GAM leadership in Sweden who used to claim representing Achehnese back home and abroad are now busy selling out their self-government to the people of Acheh.
We Achehnese have dearly paid with our blood for the cause of our struggle for independence and that cannot be merely replaced by a system of "self-government", which practically means autonomy, under the unitary state of Indonesia and its 1945 constitution. We, therefore, strongly reject this nomenclature or any other falsehood that are being fed up into our mouths. Our sworn goal to restore the ancient, historic independent Acheh remains. For there is no substitute for a genuine freedom and independence
PERMAS have no reason to believe that a political party strived by GAM will be able to fully adress the aspirations of the Achehnese. Nor do we believe that this pseudo-political party can survive under continued military rule that will be prevalent even after the signing of the agreement. To achieve a permanent and lasting peace in Acheh, TNI as well as TNA must temporarily lay down their arms. In return, the international community along with the UN should transform Acheh into a free zone, and let the people of Acheh freely exercise their political rights and the right to self-determination through a plebiscite or referendum, under UN and EU supervision. Otherwise, the pompous Helsinki accord will be once again proven short-lived.
Achehnese are a peace-loving people; they sincerely wish to solve the conflict with justice and dignity, not by force or by so many fait-accompli. We believe that independence is the right of every nation, with no exception to the people of Acheh. We are neither war monggers nor peace diturbers, but, if TNI, after the signing of the peace agreement remain unchanged in its deplorable behaviour, PERMAS together with its partners, the other half Achehnese, around the globe are ready to take on the Achehnese struggle for independence in a peaceful way, which we are more capable.
Sweden, 12 August 2005
Asnawi Ali
Secretary-general
Tlp:46-736863064
Emails:
permas_sweden@yahoo.se
permas_norway@yahoo.no
permas_denmark@yahoo.dk
PERMAS is an independent association set up in summer 2004 by Achehnese community in Scandinavia. The objective of the organisation is to unite Achehnese abroad, especially, in the Scandinavian countries, and to work together towards a peaceful, democratic solution to Acheh conflict.
=============================================================================
PERSATUAN MASYARAKAT ACEH DI SKANDINAVIA (PERMAS)
P.O.Box: 1548, Kjelvene 4093
Stavanger, Norway
Dalam beberapa hari lagi pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah kolonial Republik Indonesia (RI) akan menandatangani kesepakatan bersama pada tanggal 15 Agustus nanti yang akan menghasilkan perjanjian damai untuk mengakhiri konflik Aceh. Pihak GAM dalam suatu pernyataan resminya mengatakan bahwa mereka telah menggugurkan tuntutan kemerdekaan yang kemudian digantikan dengan istilah "Self Government". Bersamaan dengan itu dari pihak pemerintah kolonial Indonesia akan memberikan timbal balik konsesi politik, ekonomi, sosial, amnesti, dan lain2 nya yang termasuk dalam paket "Self Government" tersebut.
Bagi GAM, tafsiran "Self Government" adalah segalanya tergantung pada kehendak bangsa Aceh itu sendiri--baik mereka yang berada di dalam maupun di luar negeri--tentang apa dan bagaimana format pemerintahan sendiri. Bangsa Aceh yang di maksudkan tersebut adalah tidak atau belum mencakup keseluruhan daripada bangsa Aceh yang sama2 berjuang untuk kemerdekaan Aceh. Di samping itu, dalam hal ini kami mencermati juga tentang sikap GAM dalam perundingan tersebut yang telah menyatakan bahwa Aceh menjadi bagian yang tidak terpisah dari pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perjuangan suci yang di cita-cita kan sejak tahun 1976 telah berubah drastis dari kemerdekaan menjadi "Self Government" di bawah naungan pemerintah kolonial Indonesia.
Kami melihat bahwa, persoalan politik antara Aceh dengan pemerintah kolonial Indonesia tidak mesti diambil keputusan sekarang dalam waktu secepat ini. Persoalan politik yang sudah kronis dan rumit ini harus diselesaikan secara berangsur-angsur secara demokratis dan selalu disertai oleh pihak international yang netral. Harapan kami supaya rakyat Aceh dapat terbuka dan memahami tentang apa dan bagaimana masa depan Aceh yang tentu saja di tentukan sendiri oleh rakyat Aceh itu sendiri secara demokratis.
Kami menyongsong usaha2 damai untuk mengakhiri koflik antara Aceh dengan Indonesia secara demokratis, adil dan bermartabat. Kami tidak meyokong cara-cara non demokratis, yakni mengenyampingkan tuntutan kemerdekaan secara sepihak tanpa mengkonsultasikan komponen2 masyarakat Aceh yang lain. Perjuangan kemerdekaan bangsa Aceh yang telah sekian lama, dan dengan pengorbanan yang begitu besar, tidak bisa sama sekali diputuskan oleh beberapa perunding GAM di Helsinki yang kemudian dipaksakan kepada bangsa Aceh.
Dalam hal ini Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia (PERMAS) menyatakan bahwa tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung sebagai masyarakat sipil Aceh dalam perundingan pemerintah kolonial Indonesia sejak semula hingga tercapai solusi "Self Government" bagi konflik Aceh. Di samping itu, PERMAS juga menilai bahwa perundingan di Helsinki terbatas antara pihak2 yang berada di dalam lingkaran GAM dengan pemerintah kolonial Indonesia sehingga apapun hasil keputusan mereka bukan merupakan keputusan ataupun kemauan bangsa Aceh secara keseluruhan.
Swedia, 12 Agustus 2005
Asnawi Ali
Sekretaris Jendral
Tlp:46-736863064
Email:
permas_sweden@yahoo.se
permas_norway@yahoo.no
permas_denmark@yahoo.dk
PERMAS adalah sebuah organisasi yang di bentuk pada musim panas 2004 oleh masyarakat Aceh di Skandinavia. Tujuan pokok dari organisasi tersebut adalah menyatupadukan warga Aceh yang tersebar di luar negeri, khususnya di negara-negara Skandinavia dan bekerja sama untuk mencapai sebuah solusi yang demokratis, adil, damai terhadap konflik Aceh. |
Posted at 12:19 am by perdjuangan
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|